Lokasi yang berada radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi menjadikan tanah di sekitar gunung selalu subur. Kesuburan tanah tesebut dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai sumber penghasilan dengan menanam sayuran. Namun, hasil panen kurang dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Sehingga menggerakkan 6 mahasiswa Teknik Kimia Universitas Islam Indonesia (UII) untuk memanfaatkan hasil panen sayur seperti wortel, brokoli, sawi sendok, buncis, kubis, labu siam tersebut menjadi bahan baku utama makanan olahan berupa Nugget Sayur dalam Progam Kerja Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang berlangsung pada bulan Agustus 2018.

Keenam mahasiswa Teknik Kimia UII tersebut yaitu Annisa Alvi Ramadhani (Teknik Kimia 2015), Indri Cintya (Teknik Kimia 2015), Avincenna Mustika (Teknik Kimia 2015), Nafisah Istiqomah (Teknik Kimia 2015), Rafika Erniza Putri (Teknik Kimia 2015) dan Hana Safira (Teknik Kimia 2015). Mereka mengadakan penyuluhan tentang pembuatan Nugget Sayur di delapan dusun yang berada di desa Tlogolele.

Menurut Indri, selaku perwakilan dari keenam mahasiswa tersebut, pengolahan sayur menjadi Nugget Sayur bertujuan untuk meningkatkan nilai jual hasil panen desa Tlogolele. “Masyarakat di sini biasanya langsung menjual hasil panen sayur mereka, kemudian kami berenam menemukan ide untuk menjadikan hasil panen mereka memiliki nilai jual yang lebih tinggi dengan mengolah sayur tersebut menjadi makanan olahan seperti nugget sayur yang nantinya bisa dijual sehingga keuntungan yang diperoleh masyakarat menjadi lebih tinggi.” Jelas Indri.

Bahan-bahan pembuatan Nugget Sayur sama seperti Nugget yang dijual dipasaran, hanya saja, keenam Mahasiswa Teknik Kimia tersebut tidak menggunakan bahan pengawet pada makanan olahan tersebut dikarenakan tidak baik untuk kesehatan. Selain itu, pembuatan Nugget Sayur ini terbilang sangat mudah karna hanya membutuhkan waktu 2 jam saja.

Selain dapat dijual kepasaran, Nugget Sayur dapat dijadikan lauk pauk rumahan. Oleh karena itu, keenam mahasiswa Teknik Kimia tersebut juga mengadakan menyuluhan akan pentingnya mengonsumsi makanan yang berbahan baku sayur kepada anak-anak TPA. “Sasaran program Nugget Sayur ini bukan hanya ke ibu-ibu PKK saja, namun juga ke Anak-anak. Jadi, ibu-ibu pendapat pengetahuan tentang pengolahan sayurnya dan anak-anak mendapat pengetahuan tentang pentingnya mengonsumsi sayur.” Lanjut Indri.

Ke depannya, Indri dan Teman-temannya berharap pembuatan nugget sayur dapat terus dilanjutkan oleh ibu-ibu PKK yang nantinya bisa jadikan peluang usaha. “Kami berharap, Nugget Sayur ini menjadi peluang usaha. Karena pembuatannya yang sebentar dan mampu menghasilkan keuntungan yang banyak. Nugget sayur ini nanti bisa dijual di sekolah atau di pasar.” Pungkasnya. (NIQ/ESP)