Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII dalam rangkaian acara FTI Fest 2019 mengadakan seminar dialog kebangsaan dengan tema “Relevansi Semangat Sumpah Pemuda di Kalangan Mahasiswa di Era Millenial”. Seminar yang diadakan di Auditorium Prof. Dr. KH. Abdul Kahar Mudzakkir UII pada Senin (11/11) ini mendatangkan tiga pemateri yakni Dra. Atiek Surniati, M.Si selaku Kabid Ideologi dan Kewaspadaan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Jawa Tengah, Alif Lukmanul Hakim S.Fil., M.Phil selaku dosen dari program studi Teknik Industri, dan Eko Prasetyo yang merupakan founder Social Movement Institute yang juga merupakan alumni UII.

Atiek Surniati dalam paparannya menyampaikan, “Kalian semua sebagai anak bangsa harus bersaing untuk memperebutkan pangsa kerja. Dari hal ini jika kita tidak membentuk karakter dan tidak mencintai bangsa, menjaga toleransi antar umat beragama dan antar etnis maka banyak intervensi dari negara negara lain yang memang sangat menginginkan Indonesia ini hancur. Maka tanggung jawab dan beban moral ini harus kita jaga. Belajarlah sungguh-sungguh dan jadilah insan akademik yang berkualitas.”

Menurutnya, pangsa pasar tahun 2030 di mana bonus demografi yakni jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif yang sudah dicanangkan akan memperebutkan pangsa kerja.

Ia juga menyebutkan, “Indonesia kini diserang empat virus yakni, virus radikalisme yang menjurus kepada gerakan terorisme, fundamentalisme agama, penyalahgunaan narkoba, dan budaya korupsi. Mari kita menjadi insan yang jenius, cermat dan smart iklim berbangsa bernegara tetap kondusif”.

Pembicara lainnya, Alif menjelaskan bahwa pendidikan adalah faktor utama yang mendukung kebangkitan nasional. “Dunia saat ini adalah dunia yang sangat berbeda dengan beberapa dekade lalu. Revolusi IP, teknologi, dan sekarang kita berada di era 4.0, era disrupsi yang kemudian mempengaruhi cara hidup, bekerja, belajar dan bersosialisasi.

“Jati diri pemuda masa kini yaitu ketegasan intelektualitas dan ketegasan responsibilitas. Menegaskan dan memperkuat organ kepemudaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan sebagai organisasi pembelajar yang diarahkan pada cita-cita untuk membentuk tatanan masyarakat pembelajar.”

Sedangkan Eko Prasetyo menggarisbawahi zaman di mana semuanya itu simple dan instan yang akhirnya membuat kita kehilangan kesabaran, mudah pesimis dan emosional sehingga kita harus pintar dan cerdik dalam menghadapi tantangan di zaman ini. (DRD/ESP)