Perkembangan dunia bisnis tampak semakin diminati dan diperhitungkan. Hampir semua kalangan tertarik dengan dunia bisnis. Saat ini tidak sedikit dari kaum milenial telah memulai bisnis, seperti mahasiswa yang mempunyai sampingan dengan membuat usaha kecil. Namun demikian, dengan hadirnya Revolusi Industri 4.0 banyak tantangan yang harus dihadapi para pebisnis saat ini.

Menanggapi hal tersebut, Program Studi Ekonomi Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (FIAI UII) mengadakan Seminar dengan tema “Mencetak Pebisnis Muda Islam dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0”. Acara ini berlangsung di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito Kampus Terpadu UII, Sabtu (16/3).

Narasumber pertama dalam seminar, Muhammad Iqbal, S.E.I., M.S.I., yang juga merupakan Dosen Program Studi Ekonomi Islam UII, menyampaikan alas an kenapa kita harus berbisnis. Menurutnya Allah telah menjelaskan bahwa ada 10 pintu rezeki, 9 di antaranya itu adalah dari Attujar yaitu berdagang.

Disampaikan Muhammad Iqbal, Indonesia saat ini berada di peringkat ke-16 dalam bidang perekonomian dunia. Untuk bisa naik tingkat, menurutnya harus mengikuti perkembangan zaman. Seperti menyikapi hadirnya Revolusi Industri 4.0, dan berfikir bagaimana untuk meningkatkan Ekosistem Perekonomiannya.

Karena jika tertinggal satu langkah saja prestasi ini bisa turun. Sebagai kaum milenial penerus bangsa harus mau berfikir kritis untuk maju. “Sekarang pemerintah sudah sangat mendukung sistem ekonomi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), tinggal kita punya kemauan dan usahanya,” ujarnya.

Narasumber selanjutnya Randika Prawira Putra, S.E.I., yang merupakan alumni UII tahun 2014, menyimpulakan siapapun bisa jadi pebisnis asal dilatih. Ia menceritakan pengalamannya, memulai usaha sendiri disamping sibuknya perkuliahan. Sampai saat saat ini Ia telah mempunyai 40 lebih mitra kerja.

Disampaikan Randika, di zaman 4.0 ini pebisnis harus benar-benar melek terhadap digital. Saat ini bisnis tidak bisa lepas dari digital. “Yakni untuk pemasaran dan mengetahui apa yang diinginkan konsumen,” ujar Randika yang merupakan owner dari Capcuz minuman kekinian.

Sementara narasumber berikutnya, Amarria Dilla Sari, S.T., M.Eng., Kepala Divisi Pengembangan dan Kewirausahaan di Inkubasi Bisnis dan Inovasi Bersama (IBISMA UII) menuturkan, pebisnis harus tahu bagaimana cara mengembangakan inovasi dalam dunia bisnis karena itu sangat diperlukan.

Menurutnya tidak kalah penting ekosistem ekonomi digital juga harus ditingkatkan, dengan ini IBISMA mewadahi dan memfasilitasi mahasiswa yang mempunyai usaha. Melatih, dan membimbing karena sekarang UII tidak hanya teaching and research university namun juga enterpreneur university dimana kewirausahaan sangat didukung.

“Beberapa usaha pebisnis muda dari mahasiswa tembus pendanaan dari Rusia yang dibimbing oleh IBISMA UII. Jadi tidak usah takut, mulai dulu bisa berkolaborasi dengan teman.” Ujar Amarria Dilla Sari.

Narasumber terakhir, Meika Hazim, S.E,. M.B.A., alumni UII yang juga sebagai pemilik Coklat nDalem memaprkan tentang strategi berbisnis. Menurutnya untuk mempunyai perusahaan yang besar dan sukses tidak bisa hanya ikut-ikut dengan pola bisnis yang sedang trend namun harus berinovasi supaya usha kita bebeda dan menjadi suatu ciri khas yang menarik. “Ekonomi di zaman 4.0 harus kuat dipengolahan data dan riset,” jelasnya.

Menurut Meika Hazim, berbisnis sama dengan berbagi rezeki. sebagai pemilik perusahaan kita tidak bisa mundur begitu saja karena ada orang-orang menggantungkan kehidupannya pada kita. “Berdakwah tidak hanya dengan ceramah atau memberikan kajian tapi menolong kehidupan orang lain itu juga dakwah,” tandasnya. (CSN/RS)