Sejarah Islam merekam, pada zaman Pemerintahan Abbasiyah ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Banyak ilmuwan Muslim yang kita kenal saat ini, seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Ibnu Rusyd, lahir pada zaman keemasan itu. Ketika itu, Baitul Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) didirikan. Tugas utamanya adalah mengawal pengembangan ilmu pengetahuan.
Para ilmuwan diposisikan secara terhormat. Buku yang ditulis atau hasil terjemahannya, diberi insentif, diganti dengan emas seberat fisik bukunya. Penerjemah non-muslim diberdayakan dengan imbalan serupa untuk setiap buku hasil terjemahannya ke dalam bahasa Arab.
Buku-buku berasal dari beragam bahasa, seperti Yunani, Ibrani, dan Persia. Pada saat itu, buku-buku yang terkait dengan ilmu positivis, seperti kedokteran dan astronomi, diterjemahkan terlebih dahulu. Baru kemudian, buku-buku metafisik, seperti filsafat Plato dan Aristoteles (Amstrong, 2009).
Kisah negeri ini
Di negeri ini, kini, skema insentif pun didesain untuk para ilmuwan. Beragam skema untuk riset dan publikasi tersedia dengan kompetisi ketat untuk menggapainya. Dana yang dialokasikan juga fantastis.
Penulis percaya niat mulia ini. Tapi, apakah niat mulia ini telah direspons dengan tulus? Ini merupakan pertanyaan besar. Selain penting, jawaban pertanyaan ini, juga sensitif. Tetapi, penulis masih yakin, bahwa ilmuwan di negeri ini masih mempunyai stok selera humor dan keberanian: untuk menertawakan diri sendiri dan melakukan swakritik, meski dengan senyum simpul terkulum.
Di Dunia Lama (Eropa) nun jauh di sana, ilmuwan juga telah mendapatkan banyak kritik. Pada 2016, Radio BBC menurunkan dua laporan berseri dengan tajuk yang menghentak: “selamatkan ilmu dari ilmuwan”. Apa pasal? Kompetisi yang super ketat dalam riset dan publikasi telah membawa nilai-nilai kapitalisme ke dalam ranah akademik. Capaian akademik direduksi ke dalam angka. Kuantitas dalam banyak hal dijadikan panglima, mengalahkan kualitas. Di Dunia Baru (Amerika), tekanan ini mewujud dalam frasa: publikasi atau mati (publish or perish). Ketika kontrol kualitas kendor, pendulum bisa menuju arah yang salah.
Tekanan ilmuwan di negeri ini, nampaknya, sampai taraf tertentu, telah menjadikan kompetisi kehilangan arti. Angka publikasi yang meroket bisa jadi tuna makna. Para ilmuwan berlomba melakukan publikasi dengan kompromi pada kualitas. Kalau perlu publikasi berjamaah tuna substansi dan kerja sama sitasi pun diorkestrasi. Riset pun tidak lagi didorong karena rasa ingin tahu (curiosity driven) tetapi mengikuti selera pasar (market driven).
Penulis masih percaya, bukan ini arah yang dikehendaki oleh pengambil kebijakan di negeri ini.
Posisi diri
Jika perkembangan mutakhir diabaikan, apa yang akan terjadi? Pengembangan ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi misi utama ilmuwan. Mereka lebih suka mengejar karier atau bahkan insentif jangka pendek. Bisa jadi mereka tidak punya pilihan, atau mungkin juga dibingkai dengan alasan perlunya pentahapan. Apapun itu, pembiaran nampaknya bisa menjadikan program insentif terjerumus ke arah yang salah.
Para ilmuwan yang seharusnya berorientasi pengembangan ilmu (science-minded), telah dipaksa keadaan menjadi para pengejar karier (career-minded). Bahkan, di beberapa konteks, lebih parah lagi, mereka telah menjadi pemburu uang perangsang (incentive-minded). Untuk menentramkan: semuanya halal. Tetapi, apakah hasilnya akan sama, jika niatnya adalah membangun bangsa atau bahkan menyusun anak tangga peradaban.
Penulis yakin, pembaca sepakat: hasilnya berbeda. Peradaban tidak pernah dibangun oleh mereka dengan horizon pendek dan tidak pula oleh mereka yang terlalu cinta dengan capaian personal. Pembangun perabadan adalah mereka dengan cakrawala pandang yang jauh dengan kepentingan yang telah melampaui dirinya.
Beberapa ilustrasi
Untuk meyakinkan pembaca bahwa insentif dengan niat mulia dapat menjadi insentif jahat, berikut beberapa ilustrasi. Ilustrasi ini dirangkum oleh Edwards dan Roy (2016).
Ketika ilmuwan diberi insentif karena peningkatan cacah pubikasi, niat mulianya adalah peningkatan produktivitas riset yang akan menjadi indikator kinerja. Ketika direspons dengan salah, dampaknya justru longsoran publikasi rendah kualitas, peningkatan temuan palsu, dan anjlkoknya kualitas penilaian dari pantaran. Saat ini, ribuan jurnal dan konferensi perenggut harga diri ilmuwan, beroperasi. Karenanya, para ilmuwan harus berhati-hati.
Sitasi seharusnya merupakan indikasi relevansi dan kualitas publikasi. Riset yang dipublikasi membangun basis bagi riset lanjutan. Wajar jika sitasi diberi apresiasi. Namun apa yang terjadi, jika apreasi sitasi disalahmaknai? Daftar pustaka diperpanjang untuk mendapatkan inflasi sitasi. Pun kartel sitasi menjadi praktik lazim. Merasa akrab dengan fenomena ini? Pembaca tidak sendiri.
Contoh lain. Apresiasi terhadap ilmuwan yang mendapatkan dana riset diniatkan untuk meyakinkan bahwa program riset mendapatkan pendanaan, mendukung pertumbuhan, dan jika dimungkinkan, menambah pemasukan institusi. Apresiasi ini bisa berbalik arah dan menjadi jahat. Ilmuwan menjadi terjebak dalam penulisan proposal riset dan tidak punya waktu yang cukup untuk melakukan pengumpulan dan analisis data. Sialnya lagi, ilmuwan mencari cara menyajikan hasil positif riset secara berlebihan, dan mengabaikan atau menyembunyikan hasil negatif. Di sini, menjaga integritas akademik menjadi tantangan tersendiri.
Ketiga ilustrasi tersebut, baru sebagian kecil sisi jahat dari insentif untuk ilmuwan. Masih banyak dampak jahat turunan, jika insentif dengan niat mulia, disalahmaknai.
Tangga Sulaiman
Nabi Sulaiman adalah pembangun peradaban. Ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa pemerintahannya. Anak termuda dari Nabi Dawud ini jatuh hati kepada ilmu, ketika diminta oleh Allah memilih antara ilmu, harta, dan karier. Tetapi karena pilihannya tersebut, Nabi Sulaiman mendapat kedua yang lain: menjadi kaya raya dan raja. Inilah tangga Sulaiman. Pilihan anak tangga pertama akan mempengaruhi hasil di ujung perjalanan.
Tangga Sulaiman ini dapat menjadi pilihan arah para ilmuwan di negeri ini. Pengalaman penulis sulit mencari referensi adanya para pencinta ilmu yang hidupnya bermasalah. Siapa bilang? Bisa jadi masalah menurut ukuran para akademik pengejar karier dan pemburu uang perangsang, tetapi tidak bagi mereka.
Bagi mereka pengembangan ilmu pengetahuan adalah misi suci ilmuwan. Insentif riset atau publikasi, meski tidak sebesar ketika zaman Pemerintahan Abbasiyah, merupakan efek samping dari sebuah kerja keras yang tulus, bukan tujuan akhir. Karier dalam bentuk jabatan akademik pun hanya konsekuensi logis, bukan misi utama.
Tentu, tulisan ini sama sekali tidak mengusulkan peniadaan program insentif sebagai bentuk apresiasi. Justru, tulisan ini merupakan ikhtiar untuk mengajak para ilmuwan yang kehilangan orientasi kembali ke jalannya yang hakiki. Untuk kebaikan negeri, dan jika masih susah diimajinasi, perpendek: untuk menjaga harga diri! Wallahu a’lam bish shawab.
Tulisan ini telah dimuat dalam Harian Republika dengan judul sedikit berbeda pada 8 Januari 2019, dan dapat diakses di https://republika.co.id/berita/kolom/wacana/19/01/07/pkygkt385-hakikat-era-milenial-ke-mana-insentif-ilmuwan-salah-arah
Prof. Sefriani Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Ilmu Hukum Internasional
Prof. Dr. Sefriani, S.H., M.Hum. dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Hukum Internasional pada Sidang Terbuka Senat UII, di Auditorium Prof. Dr. Abdulkahar Mudzakkir, Sabtu (12/1). Prof. Sefriani menyampaikan pidato ilmiah berjudul Membumikan dan Memanfaatkan Hukum Internasional: model BIT untuk Indonesia.
Dalam pidatonya, Prof. Sefriani menyampaikan produk hukum internasional yang seharusnya mendapat perhatian ekstra dan memberikan manfaat untuk seluruh masyarakat Indonesia adalah Bilateral Investment Treaty (BIT).
Read more
Universitas Trunojoyo Madura Tertarik Sistem Penjaminan Mutu UII
Penjaminan mutu bagi perguruan tinggi saat ini telah menjadi kebutuhan. Dalam perjalanannya, perguruan tinggi yang berkualitas akan menghadapi berbagai permasalahan. Guna menguatkan kualitas yang telah ada pada program studi Manajemen, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) melakukan studi banding ke UII. Delegasi UTM dipimpin oleh Dr. Muhammad Alkirom Wildan, S.E., M.Si. selaku Ketua prodi Managemen UTM yang diterima Kariyam, S. Si., M. Si., selaku Kepala Badan Penjaminan Mutu UII dan didampingi oleh Dr-Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, MA. IAI., selaku Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan UII di Ruang Sidang Gedung Perpustakaan Pusat UII (11/1).
Read more
UII Sambut 15 Mahasiswa Asing dalam Program SEAMEO
Kegiatan mengabdi adalah salah satu langkah awal untuk bisa ikut serta dalam membangun masyarakat. Segala bidang dapat dijadikan sebagai wadah untuk melakukan pengabdian, salah satunya adalah dengan cara mengajar. The Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) Teacher Practicum angkatan 7 adalah salah satu wadah bagi mahasiswa untuk mengajarkan bidang ilmu yang ditekuninya secara langsung ke para siswa.
Pada Jumat (11/1) di Gedung GBPH Prabuningrat, UII kembali menyambut 15 mahasiswa asing dari Rangsit University Thailand yang tergabung dalam program tersebut. Kegiatan ceremony tersebut dihadiri oleh Rektor UII Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., yang sekaligus memberikan sambutan.
Read more
Gandeng 25 SMA, UII Siap Gelar Seleksi Mahasiswa Baru
Universitas Islam Indonesia (UII) siap menggelar seleksi penerimaan mahasiswa baru Tahun Akademik 2019/2020 di 25 kota di Indonesia melalui pola seleksi Computer Based Test (CBT) untuk jenjang Sarjana dan Diploma. Ke-25 kota tempat pelaksanaan tes CBT tersebar di kota-kota yang ada di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Secara serentak seleksi melalui pola tersebut akan mulai diselenggarakan pada 11 Januari 2019 di kampus terpadu UII dan Sekolah Menengah Atas (SMA) mitra UII yang ditunjuk. Lokasi seleksi yang tersebar di berbagai wilayah diharapkan akan memudahkan para pendaftar yang berminat melanjutkan studi di UII.
Read more
UNESA Tertarik Pengelolaan Pondok Pesantren UII
Delapan delegasi dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) berkunjung ke Universitas Islam Indonesia (UII) guna melakukan studi banding terkait pengelolaan Pondok Pesantren pada Rabu (9/1), di Gedung GBPH Prabuningrat UII.
Hadir dalam pertemuan, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan & Alumni UII, Dr. Drs. Rohidin, S.H., M.Ag., Direktur Pondok Pesantren UII, Drs. Asmuni, M.A., Direktur Pendidikan & Pembinaan Agama Islam, Dr. Aunur Rohim Faqih, S.H., M.Hum., dan Pimpinan Delegasi UNESA Muhammad Burhan Yani beserta rombongan.
Read more
Insentif Ilmuwan Salah Arah?
Insentif Ilmuwan Salah Arah?
Sejarah Islam merekam, pada zaman Pemerintahan Abbasiyah ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Banyak ilmuwan Muslim yang kita kenal saat ini, seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Ibnu Rusyd, lahir pada zaman keemasan itu. Ketika itu, Baitul Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) didirikan. Tugas utamanya adalah mengawal pengembangan ilmu pengetahuan.
Para ilmuwan diposisikan secara terhormat. Buku yang ditulis atau hasil terjemahannya, diberi insentif, diganti dengan emas seberat fisik bukunya. Penerjemah non-muslim diberdayakan dengan imbalan serupa untuk setiap buku hasil terjemahannya ke dalam bahasa Arab.
Buku-buku berasal dari beragam bahasa, seperti Yunani, Ibrani, dan Persia. Pada saat itu, buku-buku yang terkait dengan ilmu positivis, seperti kedokteran dan astronomi, diterjemahkan terlebih dahulu. Baru kemudian, buku-buku metafisik, seperti filsafat Plato dan Aristoteles (Amstrong, 2009).
Kisah negeri ini
Di negeri ini, kini, skema insentif pun didesain untuk para ilmuwan. Beragam skema untuk riset dan publikasi tersedia dengan kompetisi ketat untuk menggapainya. Dana yang dialokasikan juga fantastis.
Penulis percaya niat mulia ini. Tapi, apakah niat mulia ini telah direspons dengan tulus? Ini merupakan pertanyaan besar. Selain penting, jawaban pertanyaan ini, juga sensitif. Tetapi, penulis masih yakin, bahwa ilmuwan di negeri ini masih mempunyai stok selera humor dan keberanian: untuk menertawakan diri sendiri dan melakukan swakritik, meski dengan senyum simpul terkulum.
Di Dunia Lama (Eropa) nun jauh di sana, ilmuwan juga telah mendapatkan banyak kritik. Pada 2016, Radio BBC menurunkan dua laporan berseri dengan tajuk yang menghentak: “selamatkan ilmu dari ilmuwan”. Apa pasal? Kompetisi yang super ketat dalam riset dan publikasi telah membawa nilai-nilai kapitalisme ke dalam ranah akademik. Capaian akademik direduksi ke dalam angka. Kuantitas dalam banyak hal dijadikan panglima, mengalahkan kualitas. Di Dunia Baru (Amerika), tekanan ini mewujud dalam frasa: publikasi atau mati (publish or perish). Ketika kontrol kualitas kendor, pendulum bisa menuju arah yang salah.
Tekanan ilmuwan di negeri ini, nampaknya, sampai taraf tertentu, telah menjadikan kompetisi kehilangan arti. Angka publikasi yang meroket bisa jadi tuna makna. Para ilmuwan berlomba melakukan publikasi dengan kompromi pada kualitas. Kalau perlu publikasi berjamaah tuna substansi dan kerja sama sitasi pun diorkestrasi. Riset pun tidak lagi didorong karena rasa ingin tahu (curiosity driven) tetapi mengikuti selera pasar (market driven).
Penulis masih percaya, bukan ini arah yang dikehendaki oleh pengambil kebijakan di negeri ini.
Posisi diri
Jika perkembangan mutakhir diabaikan, apa yang akan terjadi? Pengembangan ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi misi utama ilmuwan. Mereka lebih suka mengejar karier atau bahkan insentif jangka pendek. Bisa jadi mereka tidak punya pilihan, atau mungkin juga dibingkai dengan alasan perlunya pentahapan. Apapun itu, pembiaran nampaknya bisa menjadikan program insentif terjerumus ke arah yang salah.
Para ilmuwan yang seharusnya berorientasi pengembangan ilmu (science-minded), telah dipaksa keadaan menjadi para pengejar karier (career-minded). Bahkan, di beberapa konteks, lebih parah lagi, mereka telah menjadi pemburu uang perangsang (incentive-minded). Untuk menentramkan: semuanya halal. Tetapi, apakah hasilnya akan sama, jika niatnya adalah membangun bangsa atau bahkan menyusun anak tangga peradaban.
Penulis yakin, pembaca sepakat: hasilnya berbeda. Peradaban tidak pernah dibangun oleh mereka dengan horizon pendek dan tidak pula oleh mereka yang terlalu cinta dengan capaian personal. Pembangun perabadan adalah mereka dengan cakrawala pandang yang jauh dengan kepentingan yang telah melampaui dirinya.
Beberapa ilustrasi
Untuk meyakinkan pembaca bahwa insentif dengan niat mulia dapat menjadi insentif jahat, berikut beberapa ilustrasi. Ilustrasi ini dirangkum oleh Edwards dan Roy (2016).
Ketika ilmuwan diberi insentif karena peningkatan cacah pubikasi, niat mulianya adalah peningkatan produktivitas riset yang akan menjadi indikator kinerja. Ketika direspons dengan salah, dampaknya justru longsoran publikasi rendah kualitas, peningkatan temuan palsu, dan anjlkoknya kualitas penilaian dari pantaran. Saat ini, ribuan jurnal dan konferensi perenggut harga diri ilmuwan, beroperasi. Karenanya, para ilmuwan harus berhati-hati.
Sitasi seharusnya merupakan indikasi relevansi dan kualitas publikasi. Riset yang dipublikasi membangun basis bagi riset lanjutan. Wajar jika sitasi diberi apresiasi. Namun apa yang terjadi, jika apreasi sitasi disalahmaknai? Daftar pustaka diperpanjang untuk mendapatkan inflasi sitasi. Pun kartel sitasi menjadi praktik lazim. Merasa akrab dengan fenomena ini? Pembaca tidak sendiri.
Contoh lain. Apresiasi terhadap ilmuwan yang mendapatkan dana riset diniatkan untuk meyakinkan bahwa program riset mendapatkan pendanaan, mendukung pertumbuhan, dan jika dimungkinkan, menambah pemasukan institusi. Apresiasi ini bisa berbalik arah dan menjadi jahat. Ilmuwan menjadi terjebak dalam penulisan proposal riset dan tidak punya waktu yang cukup untuk melakukan pengumpulan dan analisis data. Sialnya lagi, ilmuwan mencari cara menyajikan hasil positif riset secara berlebihan, dan mengabaikan atau menyembunyikan hasil negatif. Di sini, menjaga integritas akademik menjadi tantangan tersendiri.
Ketiga ilustrasi tersebut, baru sebagian kecil sisi jahat dari insentif untuk ilmuwan. Masih banyak dampak jahat turunan, jika insentif dengan niat mulia, disalahmaknai.
Tangga Sulaiman
Nabi Sulaiman adalah pembangun peradaban. Ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa pemerintahannya. Anak termuda dari Nabi Dawud ini jatuh hati kepada ilmu, ketika diminta oleh Allah memilih antara ilmu, harta, dan karier. Tetapi karena pilihannya tersebut, Nabi Sulaiman mendapat kedua yang lain: menjadi kaya raya dan raja. Inilah tangga Sulaiman. Pilihan anak tangga pertama akan mempengaruhi hasil di ujung perjalanan.
Tangga Sulaiman ini dapat menjadi pilihan arah para ilmuwan di negeri ini. Pengalaman penulis sulit mencari referensi adanya para pencinta ilmu yang hidupnya bermasalah. Siapa bilang? Bisa jadi masalah menurut ukuran para akademik pengejar karier dan pemburu uang perangsang, tetapi tidak bagi mereka.
Bagi mereka pengembangan ilmu pengetahuan adalah misi suci ilmuwan. Insentif riset atau publikasi, meski tidak sebesar ketika zaman Pemerintahan Abbasiyah, merupakan efek samping dari sebuah kerja keras yang tulus, bukan tujuan akhir. Karier dalam bentuk jabatan akademik pun hanya konsekuensi logis, bukan misi utama.
Tentu, tulisan ini sama sekali tidak mengusulkan peniadaan program insentif sebagai bentuk apresiasi. Justru, tulisan ini merupakan ikhtiar untuk mengajak para ilmuwan yang kehilangan orientasi kembali ke jalannya yang hakiki. Untuk kebaikan negeri, dan jika masih susah diimajinasi, perpendek: untuk menjaga harga diri! Wallahu a’lam bish shawab.
Tulisan ini telah dimuat dalam Harian Republika dengan judul sedikit berbeda pada 8 Januari 2019, dan dapat diakses di https://republika.co.id/berita/kolom/wacana/19/01/07/pkygkt385-hakikat-era-milenial-ke-mana-insentif-ilmuwan-salah-arah
UII Kirim Mahasiswa Ikuti SEA-Teacher Project Batch 7
Dalam mempersiapkan para calon guru yang memiliki wawasan global dan memiliki ketrampilan yang kompetitif di ASEAN, Universitas Islam Indonesia (UII) mengirimkan sebanyak sebelas mahasiswa dari beberapa Program Studi untuk mengikuti Student Teacher Exchange in Southeast Asia (SEA-Teacher Project) 2019 Batch 7. Program ini akan memberikan pengalaman bagi mahasiswa dalam menjalani praktek mengajar di sekolah-sekolah yang berada di Filipina dan Thailand.
Read more
Kewarasan yang Tergadai
Sembilan Mahasiswa UII Ikuti Student Exchange ke Thailand
Sebanyak sembilan mahasiswa Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri UII mengikuti program Student Exchange di Chulalangkorn University Thailand. Program ini merupakan hasil kerja sama yang sudah terjalin antara Chulalangkorn University Thailand dan UII sejak tahun 2013. Program akan dilaksanakan selama 4 bulan penuh, mulai 14 Januari 2019 mendatang.
Read more