Universitas Islam Indonesia (UII) kembali dipercaya menjadi tuan rumah dalam ajang Campus League 2026 regional Yogyakarta. Setelah pada tahun 2025 mempertandingkan cabang olahraga futsal, tahun ini kompetisi berfokus pada cabang olahraga bola basket.

Campus League merupakan organisasi independen yang berfokus pada pengembangan potensi mahasiswa melalui kecakapan dan kompetisi olahraga. Ajang ini tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berprestasi di bidang olahraga, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter.

 Kompetisi ini diselenggarakan di Gedung Olahraga (GOR) Ki Bagoes Hadikoesoemo, Kampus Terpadu UII selama tujuh hari mulai tanggal 30 April hingga 7 Mei. Sebanyak 12 kontingen dari perguruan tinggi  di wilayah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur turut ambil bagian dalam ajang ini.

Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya menekankan pentingnya sportivitas, keseimbangan akademik, serta empati dalam kegiatan olahraga yang melibatkan mahasiswa. Menurutnya, olahraga tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana membangun karakter dan nilai kemanusiaan.

Ia menyampaikan bahwa olahraga memiliki peran penting dalam membentuk sikap saling menghargai dan menjaga etika. “Di dalam olahraga ada nilai sportivitas, saling menghargai, dan kemampuan menerima hasil. Ketika nilai itu hilang, yang muncul justru sikap saling menjatuhkan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik dan non-akademik. Selain itu, empati dan sensitivitas dinilai menjadi hal yang tidak kalah penting dalam membentuk pribadi yang utuh. “Sensitivitas adalah kemampuan untuk melihat yang tidak terlihat dan memahami situasi orang lain, dan ini perlu terus diasah,” tambahnya.

Dengan adanya Campus League 2026 ini, diharapkan tercipta semangat baru bagi mahasiswa untuk terus berkembang, tidak hanya dalam bidang akademik tetapi juga dalam sportivitas dan kepemimpinan. Ajang ini menjadi bukti nyata kolaborasi antarperguruan tinggi dalam mencetak generasi muda yang unggul, berdaya saing, dan berkarakter.

Sebagai tuan rumah, UII berkomitmen untuk terus mendukung berbagai kegiatan positif yang dapat memperkuat ekosistem pembinaan mahasiswa, baik dalam bidang olahraga maupun pengembangan diri secara menyeluruh. (AHR/RS)

Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan kegiatan Info Session Study in Taiwan pada Selasa (28/04), sebagai upaya memperluas wawasan internasional mahasiswa terkait peluang studi dan beasiswa di luar negeri, khususnya di Taiwan.

Kegiatan ini menghadirkan perwakilan dari Taiwan Education Center (TEC) Indonesia Yogyakarta Regional Office, M. Bima Aoron Hafiz selaku Manager TEC Indonesia, sebagai narasumber utama. Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh informasi mengenai sistem pendidikan tinggi di Taiwan, peluang beasiswa, program pertukaran, hingga kesempatan magang internasional melalui Taiwan Experience Education Program (TEEP).

Dalam pemaparannya, M. Bima Aoron Hafiz menjelaskan bahwa Taiwan menjadi salah satu destinasi studi internasional yang semakin diminati mahasiswa Indonesia karena menawarkan kualitas pendidikan tinggi, lingkungan yang aman, biaya hidup yang relatif terjangkau, serta dukungan kuat bagi mahasiswa internasional. Selain itu, Taiwan juga dikenal unggul dalam bidang teknologi, semikonduktor, inovasi, dan riset global.

Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai berbagai jenis beasiswa yang tersedia, seperti Ministry of Education (MOE) Taiwan Scholarship, Huayu Enrichment Scholarship (HES), serta berbagai skema beasiswa universitas di Taiwan. Selain itu, dipaparkan pula tahapan pendaftaran, persyaratan dokumen, peluang program berbahasa Inggris, hingga kesempatan belajar bahasa Mandarin secara langsung di Taiwan.

Tidak hanya membahas akademik, sesi ini juga memberikan gambaran mengenai kehidupan mahasiswa internasional di Taiwan, termasuk fasilitas transportasi publik, lingkungan ramah Muslim, peluang kerja paruh waktu, serta prospek karier setelah lulus. Program TEEP turut diperkenalkan sebagai salah satu peluang magang internasional yang memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman riset, industri, dan budaya di Taiwan.

Melalui kegiatan ini, DK/KUI UII berharap mahasiswa semakin termotivasi untuk memanfaatkan peluang studi internasional dan memperluas jejaring global. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen UII dalam mendukung internasionalisasi pendidikan serta mempersiapkan mahasiswa agar mampu bersaing di tingkat global. (NI/DS/AHR/RS)

Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali melantik 6 dokter baru dalam acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter Periode 71 yang diselenggarakan pada Rabu (21/01) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII. Hingga periode ini, FK UII telah melantik sebanyak 2.674 dokter yang menegaskan peran UII dalam pengembangan dan peningkatan kualitas bidang kesehatan.

Dalam laporan sumpah dokter yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Profesi Dokter UII, dr. Ana Fauziyati, M.Sc., Sp.PD, para dokter baru berasal dari berbagai provinsi di pulau Jawa dari DKI Jakarta hingga Jawa Timur. Tak kalah membanggakan, waktu tempuh pendidikan tercepat diraih dalam waktu 2 tahun 1 bulan 24 hari. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan rumah sakit tempat pendidikan klinik yang tersebar di tiga provinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya menegaskan pentingnya empati dan sensitivitas dalam prosesi pengambilan sumpah dokter. Ia menyebut sumpah dokter bukan sekadar seremoni, melainkan peristiwa etis yang membawa tanggung jawab besar terhadap kepercayaan pasien dan masyarakat.

Ia menekankan bahwa seorang dokter tidak cukup hanya mengandalkan ilmu medis semata. “Ilmu saja tidak cukup, harus diimbangi dengan kepekaan. Dokter perlu memahami bukan hanya penyakitnya, tetapi juga perasaan, kondisi sosial, dan situasi yang dihadapi pasien,” ujarnya.

Tak lupa, Ia juga mengingatkan bahwa empati harus terus dirawat di tengah tekanan kerja yang tinggi. “Empati bukan sesuatu yang otomatis, tetapi harus terus diasah. Tantangan di lapangan bisa membuat kita kehilangan kepekaan, sehingga penting untuk terus melakukan refleksi diri,” tambahnya.

Di akhir sambutannya, Rektor UII berharap para dokter dapat menjadi tenaga medis yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berempati. Dengan demikian, pelayanan yang diberikan tidak hanya berfokus pada penyembuhan, tetapi juga memuliakan kehidupan pasien.

Senada, Dekan FK UII, Dr. dr. Isnatin Miladiyah, M.Kes menegaskan bahwa prosesi Sumpah Dokter ini bukan sekadar seremoni, melainkan momen reflektif yang menandai awal tanggung jawab besar sebagai tenaga medis. Ia menyampaikan bahwa meski jumlah dokter baru hanya enam orang, suasana yang tercipta justru lebih mendalam dan sarat makna.

Isnatin mengingatkan bahwa profesi dokter tidak hanya bertumpu pada ilmu, tetapi juga kepercayaan dan nilai kemanusiaan. Para dokter, menurutnya, akan dihadapkan pada berbagai situasi yang menuntut keputusan tidak hanya tepat secara medis, tetapi juga bijak secara manusiawi.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga empati di tengah perkembangan teknologi dan kompleksitas sistem kesehatan. “Yang akan membedakan Anda bukanlah siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling mampu tetap hadir sebagai manusia,” ujarnya.

Selain itu, ia menitipkan tiga pesan utama bagi para dokter baru. “Pertama, jangan pernah kehilangan rasa ingin tahu. Kedua, jaga empati Anda seperti menjaga kompetensi. Dan ketiga, ingatlah bahwa kita bukan penyembuh sejati, melainkan perantara,” tegasnya. Ia berharap para lulusan mampu menjadi dokter yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berempati dan berintegritas. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII)  terus berkomitmen dalam menguatkan jejaring kemitraan dengan berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Pada kesempatan kali ini, UII menerima kunuungan kerja sama dari Universitas Halim Sanusi (UHS) pada Selasa (28/04) di Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Dalam kunjungan ini juga menyepakati kerja sama yang secara resmi ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Rektor UII, Fathul Wahid dan Rektor UHS, Ir. Setiadi Yazid, M.Sc., Ph.D.

Fathul Wahid menyampaikan dalam sambutannya bahwa kekuatan institusi tidak lepas dari nilai-nilai yang diwariskan para pendiri sejak awal berdiri. Nilai tersebut, menurutnya, menjadi fondasi dalam menjaga arah dan perkembangan kampus. “Nilai-nilai yang diwariskan para pendiri itulah yang terus kami jaga dan rawat, bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk diamalkan,” ujar Rektor UII ini.

Ia menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir UII terus mendorong pertumbuhan yang tidak hanya berorientasi pada jumlah, tetapi juga kualitas. Hal ini diwujudkan melalui penguatan SDM serta perluasan peran global, termasuk program pemberdayaan perempuan dari Afghanistan sebagai bagian dari kontribusi internasional.

Sementara itu, Ir. Setiadi Yazid, M.Sc., Ph.D. menyoroti pentingnya ketahanan institusi dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga dampak pandemi. Ia menegaskan bahwa keberhasilan bertahan tidak lepas dari semangat bersama dan kerja sama berbagai pihak. “Dengan semangat dan kolaborasi, kita tetap mampu bertahan dan berkembang,” katanya.

Menurutnya, ke depan perguruan tinggi harus semakin adaptif terhadap perubahan. Peningkatan kualitas SDM menjadi kunci agar mampu bersaing dan terus berkembang di tengah dinamika yang cepat.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kerja sama antara kedua universitas yang membahas peluang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan SDM. Keduanya sepakat bahwa masa depan pendidikan tinggi sangat ditentukan oleh kemampuan institusi dalam menjaga nilai, memperluas kolaborasi, dan menyiapkan SDM yang unggul serta berintegritas. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar kegiatan Bedah Buku karya dosen Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII berjudul Filsafat Ilmu dan Epistemologi: Studi Islam Integratif-Inklusif sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Milad ke-83 UII yang dilaksanakan pada Senin (27/04) di Auditorium Gedung K.H.A Wahid Hasyim, Kampus Terpadu UII.

Kegiatan bedah buku ini menghadirkan narasumber, yaitu Fathul Wahid selaku Rektor UII, Prof. Dr. Amin Abdullah, M.A. selaku Guru Besar Ilmu Filsafat UIN Sunan Kalijaga, dan Prof. Dr. Yusdani, M.Ag selaku Guru Besar Hukum Perdata Islam UII. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai sivitas akademika, mulai dari dosen hingga mahasiswa.

Dalam sambutannya, Koordinator Bidang Kajian Ilmiah Akademis Milad ke-83 UII, Allan Fatchan Gani Wardhana, S.H., M.H menyatakan kegiatan ini dilakukan sebagai upaya mengenalkan dan menyebarluarkan karya-karya akademik dosen kepada seluruh sivitas akademika dan masyarakat luas.

“Karya-karya dosen perlu terus disebarluaskan agar gagasan dan kontribusi akademiknya dapat memberi manfaat yang lebih luas,” ujarnya.

Allan berharap kegiatan bedah buku ini dapat berjalan lancar, memberikan ruang diskusi yang produktif, serta menjadi inspirasi bagi lahirnya karya-karya akademik lainnya di lingkungan UII.

Dalam pemaparannya, Prof. Amin Abdullah menekankan bahwa filsafat perlu mendapat ruang lebih besar di dunia akademik Indonesia. Menurutnya, filsafat menjadi instrumen penting untuk membangun kemampuan berpikir kritis dan analitis, sekaligus mencegah kemiskinan gagasan dalam dunia pendidikan tinggi.

“Tidak mengenal filsafat adalah bunuh diri intelektual, karena filsafat melahirkan semangat berpikir kritis dan ide-ide baru yang sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan,” ungkapnya.

Sementara itu, Prof. Yusdani menjelaskan bahwa epistemologi studi Islam integratif-inklusif menekankan keterbukaan terhadap tradisi Islam, modernitas, dan pengetahuan lokal secara bersamaan. Pendekatan ini disebut sebagai epistemologi “Islam Tiga Kaki” yang bertumpu pada turas, modernitas, dan kearifan lokal.

“Kita harus tetap mengakar pada tradisi intelektual Islam, tetapi juga terbuka dan kritis terhadap modernitas serta pengetahuan lokal agar studi Islam tetap relevan dengan tantangan zaman,” jelasnya.

Lebih lanjut, Fathul Wahid menekankan pentingnya  untuk terus belajar dari turas atau khazanah keilmuan Islam klasik, sekaligus membuka diri terhadap pendekatan multidisiplin. Menurutnya, pengembangan keilmuan Islam tidak cukup hanya bertumpu pada satu disiplin, tetapi perlu dialog dengan berbagai bidang ilmu agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Ia menilai buku yang dibedah dalam kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata dari semangat tersebut.

“Kita harus tetap belajar dari turas, tetapi juga mampu berdialog dengan berbagai disiplin ilmu agar keilmuan Islam terus berkembang dan relevan dengan tantangan zaman,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, UII berharap lahir ruang dialog akademik yang lebih luas dalam memperkuat tradisi keilmuan Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Bedah buku ini juga menjadi bagian dari upaya kampus dalam membangun budaya intelektual yang kritis, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar wisuda jenjang Doktor, Sarjana, dan Diploma Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 pada Sabtu-Minggu (25-26/04) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir. Pada periode kali ini, UII mewisuda sebanyak 766 lulusan terdiri dari 9 doktor, 116 magister, 632 sarjana, dan 2 ahli madya. Sehingga, sampai saat ini tercatat lebih dari 137.063 alumni yang berkiprah dalam berbagai peran baik dalam negeri maupun mancanegara.

Rektor UII, Fathul Wahid, dalam sambutannya menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tantangan baru di kehidupan nyata. “Wisuda sering dianggap sebagai garis akhir dari perjalanan panjang pendidikan. Namun sesungguhnya, wisuda lebih tepat disebut sebagai titik awal,” ujarnya.

Fathul Wahid juga menekankan pentingnya kepercayaan dan karakter dalam dunia profesional. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga integritas dan kemampuan untuk terus belajar. “Dalam jangka panjang, kepercayaan selalu lebih mahal daripada kepintaran,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Alumni UII, Rizky Wijaya, S.H., LL.M turut memberikan pesan kepada para wisudawan agar siap menghadapi dinamika dunia kerja yang terus berubah. Ia menekankan pentingnya sikap adaptif dan menjaga integritas dalam berkarier. “Skill dan kompetensi kalian mungkin membuat kalian diterima kerja, tapi integritaslah yang akan membuat kalian bertahan,” ujar Vice President Corporate Banking PT Bank Mandiri (Persero).

Rizky juga mengingatkan pentingnya membangun jejaring melalui ikatan alumni sebagai bentuk kolaborasi dan saling mendukung antarsesama lulusan. Ia menyebut bahwa silaturahmi menjadi kekuatan penting dalam membuka peluang dan memperluas manfaat.

Sementara itu, Wakil Alumni lainnya, dr. Dita Anggara Kusuma, Sp.OT, Subsp. Onk. Ort. (K) membagikan pengalaman pribadinya sebagai dokter yang menangani pasien kanker. Ia menekankan bahwa dunia kerja menuntut kontribusi nyata, bukan sekadar gelar akademik. “Dunia tidak terlalu peduli dengan gelar kalian. Dunia peduli pada apa yang bisa kalian lakukan,” ungkapnya.

Melalui kisahnya, dr. Dita juga menyoroti pentingnya empati dan makna dalam menjalani profesi. Ia mengajak para lulusan untuk tidak hanya mengejar kesuksesan, tetapi juga memberikan dampak bagi orang lain. “Jangan hanya mengejar sukses—kejarlah makna,” pesannya.

Wisuda ini menjadi momentum bagi para lulusan UII untuk melangkah ke dunia baru dengan bekal ilmu, nilai, dan karakter. Dengan semangat integritas, empati, serta kemauan untuk terus belajar, para lulusan diharapkan mampu menjadi pribadi yang tidak hanya sukses secara individu, tetapi juga memberi manfaat luas bagi masyarakat. (AHR/RS)

Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menghadirkan ruang akademik yang dinamis melalui penyelenggaraan kuliah umum Visiting Professor pada Jumat, (17/04). Bertempat di Ruang Meeting Jurusan Ilmu Komunikasi UII, kegiatan ini menghadirkan Prof. Nurhaya Muchtar, seorang profesor dari Department of Communications Media, Indiana University of Pennsylvania, Amerika Serikat.

Kuliah umum yang dimulai pukul 13.00 WIB tersebut dihadiri oleh mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi UII. Mengangkat tema besar seputar media activism dan jurnalistik, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang dialog kritis antara pemateri dan peserta.

Berbeda dengan pola perkuliahan konvensional yang cenderung satu arah, Prof. Nurhaya mengusung pendekatan diskusi interaktif. Ia secara aktif melibatkan mahasiswa dalam proses pembelajaran melalui berbagai topik diskusi yang relevan dengan perkembangan media saat ini. Metode ini membuat suasana kuliah terasa hidup dan partisipatif.

Sejak awal acara, antusiasme peserta terlihat jelas. Mahasiswa tidak hanya mendengarkan, tetapi juga terlibat dalam diskusi kelompok yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan hasil diskusi secara terbuka. Pola ini mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis serta berani menyampaikan pandangan mereka.

Salah satu gagasan penting yang disampaikan Prof. Nurhaya adalah tentang keterkaitan antara perkembangan teknologi dan meningkatnya praktik media activism. Ia menekankan bahwa kemajuan teknologi, khususnya dalam hal akses alat produksi media, telah membuka peluang luas bagi masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas jurnalistik.

“Semakin murah alat, semakin jalan activism,” ungkapnya dalam sesi diskusi. Pernyataan tersebut menyoroti bagaimana keterjangkauan teknologi menjadi salah satu faktor kunci dalam mendorong partisipasi publik dalam produksi dan distribusi informasi.

Lebih lanjut, Prof. Nurhaya juga mengangkat topik mengenai pergeseran paradigma dalam dunia jurnalistik, khususnya dari public journalism menuju citizen journalism. Dalam diskusi tersebut, peserta diajak untuk membedah karakteristik dan peran masing-masing konsep dalam ekosistem media modern.

Ia menjelaskan bahwa citizen journalism berkembang pesat karena sifatnya yang lebih inklusif dan ekonomis. “Transition from public media to citizen journalism, because citizen journalism is cheap. Anybody who has 2 million Rupiah can report,” jelasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa dengan modal yang relatif kecil, siapa pun kini dapat berperan sebagai penyampai informasi.

Kuliah umum ini tidak hanya memberikan wawasan teoretis, tetapi juga relevansi praktis bagi mahasiswa sebagai calon praktisi komunikasi dan jurnalisme. Dengan pendekatan yang dialogis, mahasiswa didorong untuk tidak sekadar memahami konsep, tetapi juga mengkritisi dan mengaplikasikannya dalam konteks nyata.

Kehadiran Prof. Nurhaya Muchtar sebagai visiting professor menjadi nilai tambah tersendiri bagi lingkungan akademik UII. Selain membawa perspektif global, ia juga mampu mengaitkan teori dengan realitas media kontemporer yang terus berkembang.

Melalui kegiatan ini, Prodi Magister Ilmu Komunikasi UII menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perubahan zaman. Kuliah umum ini diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa serta mendorong mereka untuk lebih aktif dalam memahami dinamika media, khususnya dalam konteks aktivisme dan partisipasi publik.

Dengan semangat diskusi yang terbuka dan partisipatif, kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran komunikasi tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi kritis yang membangun kesadaran akan peran media dalam masyarakat.(MFPS/AHR/RS)

Direktorat Perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Workshop Etika dan Kebijakan Publikasi Internasional sebagai upaya dalam peningkatan pemahaman sivitas akademika khususnya dosen dan mahasiswa pascasarjana terkait etika publikasi ilmiah.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (23/04) di Gedung Mohammad Hatta Perpustakaan, Kampus Terpadu UII ini menghadirkan narasumber dari Emerald Publishing, William Loh Wui Lun yang membahas  tren publikasi, strategi menulis artikel ilmiah, serta proses menuju publikasi di jurnal bereputasi internasional.

Dalam sambutannya, Direktur Perpustakaan UII, Muhammad Jamil, S.IP mengatakan Perpustakaan UII secara konsisten menghadirkan berbagai program untuk mendukung sivitas akademika, mulai dari penyediaan akses sumber daya ilmiah, pendampingan penulisan karya ilmiah, hingga fasilitasi proses publikasi.

Salah satu sumber yang dapat dimanfaatkan adalah Emerald Insight, yang menyediakan ratusan jurnal di bidang bisnis, manajemen, dan ekonomi yang dapat diakses oleh mahasiswa. “Publikasi ilmiah saat ini bukan lagi pilihan, tetapi sudah menjadi kewajiban bagi sivitas akademika,” ujarnya.

Menurutnya, selain kualitas substansi karya ilmiah, pemahaman terhadap etika publikasi juga menjadi hal yang sangat penting, termasuk dalam penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI). UII sendiri telah memiliki regulasi terkait etika ilmiah sebagai pedoman bagi seluruh sivitas akademika dalam menghasilkan karya yang berkualitas dan berintegritas.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh William yang menekankan pentingnya integritas dalam penelitian dan publikasi. Setiap karya ilmiah harus memenuhi prinsip orisinalitas, kejelasan kontribusi, serta tidak sedang diajukan ke penerbit lain. Selain itu, penulis juga diwajibkan mencantumkan sitasi yang tepat dan mengungkapkan potensi konflik kepentingan secara transparan.

“Penelitian harus dilakukan dengan standar integritas yang tinggi, karya yang dihasilkan harus orisinal, tidak sedang diajukan di tempat lain, serta mencantumkan referensi dan sumber secara jelas,” papar WIlliam

William juga menyoroti penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam penulisan ilmiah. Menurutnya, AI tidak dapat diakui sebagai penulis karena tidak memiliki tanggung jawab akademik, namun dapat digunakan secara terbatas untuk penyuntingan bahasa dengan tetap menjunjung prinsip transparansi. Penulis tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab penuh atas isi dan keabsahan karya.

Melalui kegiatan ini, UII berharap sivitas akademika semakin memahami etika publikasi ilmiah sekaligus mampu meningkatkan kualitas riset. Dengan demikian, karya yang dihasilkan tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga memiliki kredibilitas dan daya saing di tingkat internasional. (AHR/RS)

Hari ini Saudara berdiri di sebuah persimpangan penting kehidupan. Wisuda sering dianggap sebagai garis akhir dari perjalanan panjang pendidikan. Namun sesungguhnya, wisuda lebih tepat disebut sebagai titik awal. Hari ini bukan tentang apa yang sudah Saudara selesaikan, tetapi tentang apa yang akan Saudara mulai.

Karena dunia setelah kampus adalah ruang ujian yang berbeda. Di kampus, Saudara diuji dengan soal. Di kehidupan nyata, Saudara diuji dengan tanggung jawab. Di kampus, Saudara dinilai dengan angka. Di kehidupan nyata, Saudara akan dinilai dengan kepercayaan.

Dalam jangka panjang, kepercayaan selalu lebih mahal daripada kepintaran.

 

Organisasi yang sehat

Saudara akan segera menyadari bahwa kehidupan profesional bukan hanya tentang kemampuan memimpin, tetapi juga tentang kesiapan untuk dipimpin. Tidak semua orang langsung menjadi pemimpin. Bahkan sebagian besar perjalanan karier justru dimulai dari menjadi pengikut. Di sinilah karakter sering kali dibentuk tanpa disadari.

Organisasi yang sehat bukan hanya membutuhkan pemimpin yang baik. Ia juga membutuhkan pengikut yang baik. Karena kepemimpinan (leadershio) yang kuat tanpa kepengikutan (followership) yang matang tidak akan menghasilkan organisasi yang kokoh.

Izinkan saya menggunakan satu metafora sederhana. Kehidupan profesional itu seperti sebuah pendakian gunung. Dalam satu tim pendakian, memang ada pemimpin ekspedisi. Tetapi keberhasilan mencapai puncak tidak pernah ditentukan oleh satu orang. Ia ditentukan oleh kualitas seluruh tim. Ada yang memimpin arah. Ada yang menjaga ritme. Ada yang memastikan logistik. Ada yang membantu ketika ada yang kelelahan.

Dalam banyak situasi, justru mereka yang berjalan di belakanglah yang memastikan tidak ada yang tertinggal. Begitulah organisasi yang sehat bekerja.

Ketika Saudara dipercaya menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang mengayomi. Pemimpin yang kehadirannya membuat orang merasa lebih kuat, bukan lebih kecil. Pemimpin yang terlihat, bukan hanya terdengar. Pemimpin yang memberi contoh, bukan hanya memberi perintah.

Karena sesungguhnya, kepemimpinan yang paling efektif adalah kepemimpinan melalui keteladanan. Orang mungkin mendengar instruksi, tetapi mereka mempercayai contoh.

Pemimpin yang baik juga tidak membangun kewibawaan melalui jarak, tetapi melalui integritas. Ia tidak mengelabui bawahan dengan agenda tersembunyi. Ia tidak mengatakan satu hal dan melakukan hal lain. Ia memahami bahwa transparansi bukan kelemahan, tetapi fondasi kepercayaan.

Seorang pemimpin mungkin bisa memerintah dengan jabatan. Tetapi ia hanya bisa memimpin dengan kepercayaan.

 

Kepengikutan dan pola pikir bertumbuh

Izinkan saya mengatakan sesuatu yang mungkin jarang disampaikan dalam forum wisuda: menjadi pengikut yang baik sering kali lebih sulit daripada menjadi pemimpin.

Karena menjadi pengikut yang baik membutuhkan kedewasaan karakter. Ia menuntut profesionalitas tanpa harus selalu terlihat. Ia menuntut kontribusi tanpa selalu mendapat pengakuan. Ia menuntut integritas bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Pengikut yang baik bukan mereka yang selalu setuju. Pengikut yang baik adalah mereka yang tetap berpikir. Mereka yang tetap menjaga akal sehatnya. Mereka yang berani mengingatkan pemimpinnya jika arah mulai keliru. Loyalitas sejati bukan kepada kenyamanan, tetapi kepada kebenaran.

Organisasi yang kuat bukan yang semua orangnya diam. Organisasi yang kuat adalah yang orang-orangnya berani berbicara dengan cara yang benar.

Di sinilah pentingnya growth mindset, pola pikir bertumbuh. Dunia yang Saudara masuki akan terus berubah. Apa yang Saudara pelajari hari ini mungkin perlu diperbarui beberapa tahun lagi. Jabatan yang Saudara impikan mungkin membutuhkan kemampuan yang hari ini belum Saudara miliki.

Maka keunggulan terbesar Saudara bukan pada apa yang Saudara kuasai hari ini, tetapi pada seberapa cepat Saudara mau belajar besok.

Orang yang berhenti belajar perlahan akan tertinggal. Bukan karena ia tidak pintar, tetapi karena ia merasa sudah cukup pintar. Karena masa depan bukan milik mereka yang paling tahu. Masa depan milik mereka yang paling mau bertumbuh.

 

Karakter dalam memimpin

Jika suatu saat Saudara memimpin, ingatlah: jabatan memberi Saudara kekuasaan, tetapi karakterlah yang membuat orang mengikuti Saudara.

Jika suatu saat Saudara dipimpin, ingatlah: profesionalitas membuat Saudara dihargai, tetapi integritaslah yang membuat Saudara dipercaya.

Di posisi apa pun Saudara berada, ingatlah satu hal: reputasi dibangun dari apa yang Saudara lakukan ketika tidak ada yang mengawasi.

Organisasi yang besar tidak dibangun oleh satu pemimpin hebat. Organisasi yang besar dibangun oleh banyak orang baik yang menjalankan perannya dengan benar.

Saudara dapat mengingat ringkasan ini. Pemimpin sejati adalah mereka yang membuat orang lain bertumbuh. Pengikut sejati adalah mereka yang tetap bertumbuh meski tidak terlihat. Manusia yang berhasil adalah mereka yang tetap bertumbuh dalam posisi apa pun.

Semoga Saudara tidak hanya dikenal karena kecerdasan, tetapi karena karakter. Tidak hanya sukses sendiri, tetapi juga memberi makna bagi sekitar. Dan jika suatu saat Saudara berada di puncak, jangan lupa membuka tangga bagi yang lain untuk naik. Bukan dengan menarik orang karena kedekatan, bukan karena transaksi kepentingan, tetapi karena kualitas, keadilan, dan integritas.

Selamat menempuh perjalanan baru.

 

Sambutan upacara wisuda pada 24-25 April 2026.

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

Universitas Islam Indonesia (UII) terus berkomitmen dalam menguatkan jejaring kemitraan dengan berbagai perguruan tinggi baik nasional ataupun internasional. Pada kesempatan kali ini, UII menerima kunjungan kerja sama dari Australian Catholic University (ACU) pada Rabu (22/04) di Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII.

Lawatan ini menjadi bagian dari upaya kedua universitas dalam mengoptimalkan pengelolaan perguruan tinggi yang mencakup bidang penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat.

Rektor UII menyambut hangat kunjungan delegasi ACU dan menyatakan bahwa kerja sama ini mencerminkan hubungan yang telah terjalin erat antara kedua institusi. Ia berharap penandatanganan nota kesepahaman dapat menjadi pijakan untuk mendorong kolaborasi yang lebih luas dan produktif di masa mendatang.

Fathul Wahid menyoroti kesamaan visi antara UII dan ACU, khususnya dalam konsep human flourishing atau kehidupan yang bermakna, yang mencakup kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan.

“Kami memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa kesamaan nilai tersebut menjadi fondasi kuat untuk membangun kerja sama yang berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi kedua institusi.

Senada, Vice Chancellor dan CEO dari ACU, Prof. Zlatko Skrbis menyampaikan apresiasi atas kesempatan menjalin kemitraan dengan UII. Ia menekankan bahwa kerja sama ini merupakan langkah awal yang penting untuk mempererat hubungan dan mengembangkan kolaborasi di berbagai bidang ke depan.

Menurutnya, meskipun kedua institusi berasal dari tradisi yang berbeda, terdapat kesamaan nilai yang kuat, khususnya dalam memandang pentingnya kesejahteraan, kebahagiaan, dan kehidupan yang bermakna.

“Meskipun berasal dari tradisi yang berbeda, kita memiliki tujuan yang sama tentang kesejahteraan dan kehidupan yang baik,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pendidikan berbasis nilai serta keterlibatan mahasiswa dalam masyarakat menjadi kekuatan utama yang dapat dikembangkan bersama melalui kemitraan ini.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kerja sama antara kedua universitas yang membahas peluang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.. Lawatan ini diharapkan menjadi langkah strategis bagi UII dan ACU untuk terus memperkuat kolaborasi dan meningkatkan semangat kerja sama akademik. (AHR/RS)