Universitas Islam Indonesia

Selamat datang di website Universitas Islam Indonesia
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
BKS PTIS Selenggarakan Rakernas Pertama E-mail
Wednesday, 13 October 2010

ImageSetelah pergantian kepengurusan pada Desember 2009, Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKS PTIS) melakukan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) untuk pertama kalinya, Minggu (10/10) lalu. Bertempat di pendopo Bupati Kabupaten Musi Rawas, Rakernas BKS PTIS berlangsung selama dua hari dan dihadiri sekitar 40 pengurus dari berbagai perguruan tinggi islam swasta di tanah air.

Ketua BKS PTIS, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec, dalam sambutannya menyampaikan, tantangan perguruan tinggi islam swasta ke depan semakin berat. Hal itu diungkapkannya dengan menggambarkan posisi perguruan tinggi di Indonesia secara umum. “Lembaga pendidikan tinggi Indonesia saat ini masih dirundung berbagai persoalan, baik dari sudut pandang lokal maupun dari sudut global”, katanya.

Prof. Edy Suandi Hamid yang juga Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) itu mengungkapkan, dari sudut pandang lokal, persoalan perguruan tinggi Indonesia masih dihadapkan pada pengentasan pengangguran yang sebagian besar berasal dari lulusan perguruan tinggi. Persoalan terhangat saat ini di dunia pendidikan tinggi di Indonesia yakni terkait akreditasi, juga diungkapkannya sebagai wujud tantangan. “Di tengah situasi ini pula, dari sisi global, fenomena persaingan melalui pemeringkatan, terus bergulir, dimana perguruan tinggi Islam, baik yang berstatus negeri maupun swasta, masih lekat dengan penilaian kalah bersaing dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi pada umumnya”, katanya.

Terlepas dari berbagai pendapat yang berkembang, Ketua BKS PTIS melanjutkan, hikmah yang dapat kita petik adalah bahwa fenomena dan persoalan yang mengemuka akhir-akhir ini adalah wujud dari tuntutan bagi seluruh institusi pendidikan tinggi di Indonesia, termasuk Perguruan Tinggi Islam yang berstatus Swasta, untuk terus meningkatkan kualitas, dan memperbaiki diri. “Semoga apa yang kita lakukan selama dua hari ini, dapat menjadi bagian dari kontribusi kita dalam memajukan pendidikan di Indonesia, khususnya melalui organisasi BKS PTIS”, lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina BKS PTIS, Prof. (em) Dr. E. Saifullah, SH., LLM, mengungkapkan, perkumpulan pengurus organisasi tersebut, selain menjadi ajang silaturahmi, juga merupakan wujud dari keshalehan akademik. “Dengan perkumpulan kita hari ini, menjadi wadah keshalehan akademik dapat kita salurkan demi memajukan dan mengembangakan perguruan tinggi Islam”, katanya. Dia juga mengungkapkan, perkumpulan ini bernilai ibadah karena dilandasi dengan niat mulia dan upaya meningkatkan kualitas umat.

Menurut salah satu pengurus BKS PTIS, Nandang Sutrisno, SH., LLM., M.Hum., Ph.D, Rakernas BKS PTIS berjalan dengan lancar. Target yang ditetapkan melalui rapat kerja pertama ini tercapai, termasuk diskusi tentang persoalan kebangsaan akhir-akhir ini. “Banyak kesan positif yang didapatkan dari Rakernas BKS PTIS ini. Program-program yang berorientasi dalam peningkatan peran dan kualitas perguruan tinggi Islam juga sudah konkrit”, katanya.

Ditanya mengenai langkah peningkatan kualitas perguruan tinggi Islam, lebih lanjut Nandang Sutrisno, Ph.D yang juga sebagai Wakil Rektor I UII itu menjelaskan, perguruan tinggi Islam di tanah air akan terintegrasi dalam peningkatan kualitas insitusi. “Untuk pertama, kita akan melakukan identifikasi kepada seluruh perguruan tinggi Islam di Indonesia hingga ke pelosok daerah-daerah. Melalui bidang tertentu di BKS PTIS, kita akan memberikan masukan-masukan dan sharing metode pengembangan”, lanjutnya.

BKS PTIS Ingatkan Jangan Jadi Negara Gagal

Selain membahas tentang program kerja, Rakernas BKS PTIS juga sempat merumuskan dan mengeluarkan pernyataan sikap mengenai persoalan terbaru bangsa. Pernyataan BKS PTIS yang dikeluarkan pada hari kedua (senin) Rakernas itu antara lain mengingatkan agar penyelenggara negara tidak mengarahkan negara menjadi negara gagal (state failure). Hal itu dinyatakan sebagai tanggapan terhadap penyelesaian berbagai konflik yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini.

BKS PTIS menilai, tindakan-tindakan kekerasan yang terjadi hampir merata di seluruh wilayah Indonesia, baik yang sifatnya vertikal maupun horizontal telah sampai pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Dalam menyelesaikan kasus-kasus tersebut pemerintah lebih cenderung menyelesaikannya semata-mata berdasarkan kompromi, dan mengabaikan penegakan hukum.

“Pada tingkat tertentu, hal tersebut berpotensi pada menggejalanya “pembangkangan sosial” (social disobedience). Jika hal tersebut tidak ditangani dengan baik, dan diperparah dengan kefrustrasian masyarakat dalam kehidupan sosial ekonomi, seperti kemiskinan, pada gilirannya akan mengarah kepada “state failure” (negara yang gagal)”, ungkap Prof. Edy Suandi Hamid.

Ketua BKS PTIS yang juga Rektor UII itu menilai, konflik yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini tidak diselesaikan penegak hukum dengan kebijakan atau putusan yang memihak keadilan. “Berbagai konflik yang terjadi baru-baru ini dan di antaranya sudah memakan korban jiwa, menjadi pelajaran bagi kita untuk memperbaiki bangsa ke depan. Penegak hukum harus lebih memperhatikan kewajibannya dengan mengutamakan tindakan-tindakan yang bijaksana”, tegasnya.

Selain terkait konflik, beberapa persoalan lainnya juga termaktub dalam Pernyataan Sikap BSK PTIS itu, seperti terkait tindakan SBY yang membatalkan kunjungannya ke Belanda, dan juga efektifitas kinerja kepolisian dalam memberantas terorisme di Indonesia.




Share this Article ...
Live!Facebook!twitter!MySpace!Furl!Yahoo!
 
About University
Campus Facilities
Centers and Departments
Directorate
Faculty and Programmes
Laboratory
Prospective Students
Student Affairs
Scholarship
Media Relations
Contact
Web Directory
Blog
Email
Map of Campus
Site Map